Tuesday, May 21, 2013

Merajut Makna




Tidak sepantasnya keluh kesah itu hadir mendominasi setiap langkah kaki. merangkak-rangkak pun butuh daya apalagi berlari kencang. Bukan membandingkan, hanya saja kita berbicara mengenai refleksi semangat juang yang tertorehkan oleh para pendahulu. 

Lihat saja Said bin Amr, kepribadian yang sederhana nan luar biasa mampu menorehkan peradaban besar sebuah bangsa. 

Terlebih teruntuk Rasulullah, tiada kata yang mewakili untuk beliau, atas segala perjuangan terhadap ummat ini. 

Tak hanya itu, ahmad dahlan memiliki kapasitas yang besar, seorang tokoh nasional sekaligus tokoh Islam di Indonesia yang mampu membentuk pola fikir masyarakat akan penanaman dasar-dasar nilai Islam yang diajarkan Rasulullah, dengan tidak mengaitkan sesaji, dengan tidak menyekutukan Allah walaupun niatan masyarakat pada zamannya adalah itu bagian ubudiyah (penyembahan) terhadap Allah SWT, namun itu bentuk dari penyimpangan, dan ahmad dahlan mampu merekonstruksi pemahaman tadi dengan proses-proses yang bertahap.


Beginilah pembinaan-pembinaan para pendahulu berbicara tentang makna dari pembelajar yang baik. Menjadi pribadi yang pernah salah itu adalah bagian dari yang menguntungkan. mengapa? karena pada momen tersebutlah kita mampu menaikkan kapasitas kita, terlebih itu kepekaan, kejelihan, ketelitian, dan aspek-aspek lainnya.

Hikmah itu barang hilang seorang mukmin, dimana pun ia menemukannya maka ia paling berhak mendapatkannya (HR. Tirmidzi).

Merajut makna dari setiap momennya adalah sesuatu yang tak ternilai. Seperti di dalam buku menyimak kicau merajut makna, Salim A. FIllah. Banyak sekali nasihat yang bertebaran, celotehan yang baik, bahkan yang buruk sekalipun, tetapi marilah kita mampu mengambil makna di setiap episode kehidupan kita ini. 

Belajar menjadi pembelajar yang baik adalah keharusan. Mengapa? Karena kita dituntut untuk untuk menjadi pribadi yang cemerlang nan bermaknakan sempurnakah? Bukan itu tapi seperti muslim yang berwarnakan putih namun Allah mencelupkan kita ke dalam warna-warna kehidupan sehingga kita adalah warna-warni yang saling mencinta, bekerja, dan harmoni dalam melangkah ke depannya.

Teringat akan kisah pada saat perang hunain, Allah menguji dengan memberikan pasukan yang banyak, ya dengan kuantitas yang memuaskan. “Kita tidak akan pernah lagi dikalahkan oleh bilangan yang sedikit”, kata salah seorang pasukan pada saat itu.

“Dan ingatlah perang hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu. Maka jumlah yang banyak itu tidak member manfaat kepadamu sedikitpun dan bumi yang luas ini terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (At-Taubah: 25)

Penggalan sejarah peradaban dari Said bin Amr dan Ahmad Dahlan adalah sesosok orang yang memang Allah takdirkan untuk menjadi agen perubahan pada zamannya. Banyak kah jumlah mereka? Ribuan? Atau bahkan puluhan ribukah mereka?

TIDAK, sesungguhnya jumlah mereka sedikit. Bermula dari 1 orang yang menyeru kepada kebaikan lantas bertambah sedikit demi sedikit.

Apa yang menjadi titik balik?
Islam yang kaffah ini akan muncul dalam keadaan terasing dan berakhir dengan keadaan terasing. Maka berbahagialah ketika Allah menghadiahkanmu berada dalam lingkungan orang-orang yang shaleh/ah. Kuantitas kader yang faham akan harakiyah islamiyah ini sedikit, namun tidak sepantasnya kita berputus asa karena janji-Nya begitu nyata, “Kemenangan yang agung”.

Jadilah pembelajar yang baik, karena banyak orang yang belajar namun lupa untuk merajut makna di setiap puzzle-puzle kehidupan.