Tuesday, December 23, 2014

Serajin Apa Kita Berlatih Menemukan Jalan Lain?

“Tidak ada di depan Musa kecuali lautan. Jalan sudah buntu. Pelarian tampak akan segera berakhir. Kematian sudah diujung tanduk. Firaun dan balanya kian mendekat. Itu yang dilihat, dirasakan, dan diyakini para pengikut Musa. Perseteruan melelahkan itu sekilas akan berkesudahan nestapa. Pembantaian Musa dan orang-orang beriman oleh firaun dan tentaranya begitu nyaris.
Tapi logika jalan lain bagi orang beriman selalu abadi, bahkan di momen paling mengancam sekalipun.
Orang beriman meyakini, ia hanya harus berusaha keras memperpanjang nafas, melindungi nyawa, lari dari kematian sejauh-jauhnya. Selebihnya adalah kerelaan pada takdir secara penuh, bahwa bila Allah memandang kita masih berguna dan diperlukan. Tapi bila kita sudah tak diperlukan, atau seri berikutnya dari tugas ini harus dilanjutkan orang lain, mungkin itu artinya jatah kita telah habis. Tapi dalam ketidaktahuan takdir itu, kita tetap harus memacu langkah, mencari jalan lain untuk setiap yang buntu.”
Sepenggal kalimat oleh Ahmad Zaifori AM dalam majalah Tarbawi
Benar adanya, orang-orang beriman, Allah berikan ‘azzam’ yang jika ia berada dalam kesusahan, ia terus bergerak dalam kesabaran mencari jalan lain. Seperti halnya Musa yang dikejar Firaun, tetap bergerak dan berkeyakinan bahwa Allah akan menurunkan pertolongan-Nya.
Jika hari ini kita berada dalam kesedihan, kesusahan, tekanan hidup dsb, pantaslah Allah bercerita dalam Al-Qur’an tentang sirah (sejarah) para nabi dan rasul agar kita dapat meneladaninya.
Dan pertanyaannya adalah... serajin apa kita berlatih menemukan jalan lain?




No comments:

Post a Comment

yuk comment